CGTN: Mengapa Perhatian Dunia Tertuju pada Pertemuan Xi-Trump: Penentuan Arah Hubungan Tiongkok-AS hingga Masa Depan Global

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 27 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CGTN mengulas kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS). Mengangkat kisah sejumlah anak muda AS yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan Tiongkok serta pengumuman terbaru Xi yang mengundang 100.000 anak muda Amerika untuk berkunjung ke Tiongkok dalam lima tahun ke depan, artikel tersebut menyoroti peran diplomasi kepala negara dalam menentukan arah hubungan Tiongkok-AS sekaligus membahas arti penting kerja sama kedua negara bagi dunia.

BEIJING, 27 September 2026 /PRNewswire/ — Marlon Forrester dan Joey Zhang tidak menyangka surat yang mereka kirim kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping akan mendapat balasan.

Kedua sosok ini merupakan bagian dari sekitar 100 mahasiswa di 10 universitas di Amerika Serikat yang mengikuti program pertukaran pemuda di Tiongkok. Setelah kembali dari perjalanan tersebut, Forrester dan Zhang menulis surat kepada Xi. Balasan dari Presiden Tiongkok itu tiba sehari sebelum kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam wawancara eksklusif dengan CGTN, Forrester, seorang dosen di Harvard University, dan Zhang, mahasiswa Columbia University, berbagi pengalaman mengenai program pertukaran tersebut. Menurut mereka, keterlibatan Xi dengan generasi muda turut "menanam benih" dan "meletakkan fondasi" bagi generasi baru untuk melanjutkan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Dalam upacara penyambutan di Gedung Putih pada 24 September, Xi mengumumkan bahwa Tiongkok akan mengundang 100.000 anak muda Amerika untuk mengikuti program pertukaran dan studi di Tiongkok selama lima tahun ke depan.

Komitmen tersebut menggambarkan bagaimana keputusan di tingkat tertinggi dapat diterjemahkan menjadi pengalaman nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, dunia terus mencermati langkah Tiongkok dan AS dalam menata masa depan hubungan bilateral.

Menentukan arah hubungan Tiongkok-AS

Sepanjang 2026, interaksi antara Xi dan Presiden AS Donald Trump berlangsung cukup intens dan turut menentukan arah hubungan Tiongkok-AS.

Dalam percakapan via telepon pada Februari, Xi dan Trump sepakat untuk "mencapai lebih banyak hal besar dan positif". Xi juga menyerukan agar 2026 menjadi tahun untuk mendorong sikap saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, serta kerja sama yang saling menguntungkan.

Tiga bulan berselang, Trump pun berkunjung ke Tiongkok. Pertemuan yang berlangsung hampir sembilan jam itu menghasilkan konsensus politik penting untuk membangun "hubungan Tiongkok-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis".

Bagi Xi, menetapkan arah hubungan hanyalah langkah awal. Ia menegaskan bahwa membangun hubungan Tiongkok-AS "bukanlah langkah sementara dan tidak dapat selesai dalam semalam". Di Washington, Xi juga menyerukan "semangat untuk terus bersikap konsisten" sebagai gambaran perlunya kegigihan dalam mempererat hubungan bilateral.

Hubungan antarmasyarakat juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Di Lincoln High School, Washington State, serta di kalangan anak muda di Maryland dan Florida, pesan-pesan Xi kepada generasi muda Amerika mendorong mereka untuk menjadi penghubung persahabatan antara kedua negara.

Di bidang ekonomi, Kementerian Perdagangan Tiongkok mencatat bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat telah mendirikan lebih dari 84.000 perusahaan penanaman modal asing (PMA) di Tiongkok hingga Juli 2026. Nilai investasi mereka meningkat 7,8% secara tahunan pada Semester I-2026. Sementara itu, survei US-China Business Council terhadap 175 perusahaan Amerika menunjukkan bahwa 95% responden menilai aktivitas usaha di Tiongkok berperan penting bagi daya saing global perusahaan.

Tanggung jawab yang melampaui dua negara

Hubungan bilateral Tiongkok-AS memiliki dampak yang jauh melampaui kedua negara.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Xi mengatakan "Kerja sama Tiongkok-AS tidak dapat menyelesaikan setiap persoalan dunia, namun tanpa kerja sama kedua negara, banyak persoalan global akan sulit teratasi."

Xi menyerukan kedua negara agar "memperpanjang daftar kerja sama dan memperpendek daftar persoalan". Agenda tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari perdagangan dan investasi hingga kecerdasan buatan (AI), pemberantasan narkotika, penegakan hukum, dan penerbangan langsung.

Menurut Sun Taiyi, Associate Professor di Christopher Newport University, kerja sama bilateral dapat mengurangi ketidakpastian pasar, mengelola risiko teknologi, dan memperbaiki komunikasi dalam menghadapi krisis. "Bahkan, kerja sama yang cakupannya terbatas dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas global," ujarnya.

Tata kelola AI juga menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian global. Xi mengatakan bahwa "Tiongkok dan AS merupakan dua negara terdepan dalam AI" dan memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan AI tetap "berada di bawah kendali manusia dan melayani kesejahteraan manusia".

Wang Honggang, Direktur Institute of Peaceful Development, Chinese Academy of Social Sciences, menilai bahwa tata kelola AI yang bersifat kolektif merupakan salah satu contoh utama kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi dunia.

Survei CGTN di 39 negara menunjukkan bahwa 75% responden menilai stabilitas hubungan Tiongkok-AS berperan penting bagi masyarakat internasional. Angka tersebut mencapai 78,3% di negara-negara berkembang.

Tahun ini, Tiongkok menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC, sementara AS menjadi tuan rumah KTT G20. Perhatian dunia pun tertuju pada bagaimana para pemimpin kedua negara berinteraksi, mempertahankan komunikasi, dan memperluas kerja sama.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Xi mengatakan, "Tiongkok dan AS sebagai dua negara besar mengemban tanggung jawab historis untuk mendorong pembangunan dan kemajuan umat manusia."

https://news.cgtn.com/news/2026-09-25/Why-the-world-is-watching-the-Xi-Trump-meeting-1QIgAZq6BMY/p.html 

Berita Terkait

Meneruskan kekayaan lebih mudah daripada mempersiapkan pewaris untuk mengelolanya, menurut studi Sun Life Asia
The Coffee Bean & Tea Leaf® dan Al-Ghunaim Rayakan Pembukaan Kafe Ke-130 di Kuwait
Milliken Memamerkan MAXCELL® di Data Centre World Asia 2026, Membantu Asia Tenggara Memenuhi Kebutuhan Infrastruktur AI yang Terus Meningkat
Rianlon Ekspansi ke Malaysia, Perkuat Pasar Global
Huawei Paparkan Enam Proyek Percontohan Ketenagalistrikan Global, Bangun Sistem Baru dengan Sinergi AI dan Energi
Reconova Debut di Ajang PTE Asia 2026, Dorong Ekspansi Smart Aviation Berbasis Embodied Intelligence
Hollyland WeConnect 2026 Soroti Hal yang Tak Tergantikan di Era AI
Shanghai Electric Hadirkan Tiga Solusi Transisi Energi di Enlit Asia 2026

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 15:56

CGTN: Mengapa Perhatian Dunia Tertuju pada Pertemuan Xi-Trump: Penentuan Arah Hubungan Tiongkok-AS hingga Masa Depan Global

Minggu, 27 September 2026 - 04:37

Meneruskan kekayaan lebih mudah daripada mempersiapkan pewaris untuk mengelolanya, menurut studi Sun Life Asia

Jumat, 25 September 2026 - 12:25

The Coffee Bean & Tea Leaf® dan Al-Ghunaim Rayakan Pembukaan Kafe Ke-130 di Kuwait

Jumat, 25 September 2026 - 10:00

Milliken Memamerkan MAXCELL® di Data Centre World Asia 2026, Membantu Asia Tenggara Memenuhi Kebutuhan Infrastruktur AI yang Terus Meningkat

Jumat, 25 September 2026 - 00:20

Huawei Paparkan Enam Proyek Percontohan Ketenagalistrikan Global, Bangun Sistem Baru dengan Sinergi AI dan Energi

Berita Terbaru